WilsonKasim.Com

Talk Less, Blog More…

Skip to: Content | Sidebar | Footer

@Telkomsel : Back to the old style.

4 February, 2012 | Thoughts & Musings

Ketika umur bergerak cepat tanpa kita sadari, zaman makin berubah, teknologi makin canggih, semua serba digital, fitur telepon genggam yang terkadang diluar nalar, namun Telkomsel malah sedikit berjalan ke belakang, kembali ke dunia nenek moyang saya, kembali ke cara tradisional, entah apa tujuannya…

Artikel ini bukan bertujuan untuk melakukan protes, hanya curahan hati… Karena ini adalah produk Telkomsel, tentu saja menjadi hak beliau dalam menentukan segala hal yang berhubungan dengan beliau, kami orang luar, nggak punya hak apapun, nikmati saja apa yang diberikan.

Saya berada di dunia ini masih termasuk hijau, masi muda, belum genap 4 tahun, maaf kalau pendapat saya ada yang salah. Tapi selebih kurang, saya sudah mengerti seluk beluk tentang dunia ini. Ketika awal tahun lalu, dimulai clusterisasi —mungkin orang atas beliau adalah mantan developer komplek perumahan, jadi bercita-cita membagi beliau menjadi beberapa bagian— yang dilakukan oleh beliau (dan juga diikuti teman-teman lainnya XL dan Indosat).

Seperti yang saya ketahui, program clusterisasi yang dilakukan beliau telah menjatuhkan banyak korban, mulai dari Authorized Dealer (AD) yang perlahan-lahan menutup kantor cabang yang dulunya tersebar dibeberapa tempat, yang secara langsung juga mempengaruhi kenaikan tingkat pengangguran karena karyawan-karyawan yang di-PHK. Mencari pekerjaan baru di masa sekarang ini nggak semudah membalik telapak tangan, belum lagi karyawan yang memiliki tanggungan keluarga.

Beberapa AD yang baru melakukan pembelian/penyewaan kantor cabang juga terimbas masalah ini, karena mau gak mau, kantor cabang yang baru mereka beli/sewa sudah nggak bisa di-operasi-kan. Mending kalau AD tersebut dana IMF-nya kuat, pembelian juga bisa dianggap investasi. Kalau AD yang membeli dengan cicilan, berharap menutup cicilan dengan keuntungan yang didapat dari operasional toko? Terus gimana kalau AD yang menyewa kantor cabang tersebut, kontrak sewa yang sudah ditanda-tangani sudah nggak bisa dibatalkan. AH! Lupakan masalah AD ini, karena saya bukan AD, jadi sebenarnya saya nggak terlalu jelas dan paham masalah yang terjadi di dalam, ini hanya pandangan saya…

Berikut ini beberapa pandangan yang langsung saya alami, untuk mewujudkan cita-cita orang atas beliau, saya ibaratkan cluster sebagai komplek…

Sebagai Distributor Pulsa. Otomatis pasar kami sudah semakin sempit, beberapa mitra diluar komplek yang sudah bekerja sama dengan kami dalam jangka waktu yang bisa terbilang singkat, dengan berat hati harus kami lepas, baik-baik yah nak di komplek baru, cari papa baru ya disana, papa nggak sanggup isiin pulsa lagi…

Banyak mitra yang menelepon saya untuk mencari solusi-nya agar tetap bisa melanjutkan kerja sama, tapi sampai saat ini belum ada solusi yang bisa menolong, karena tiap komplek dijaga oleh satpam yang berbeda-beda, mending ketemu satpam yang baik hati, kita boleh masuk kompleknya, kalau nggak yah siap-siap dicuekin, mau nangis mau berlutut mau sembah sujud juga nggak guna, silap-silap ditendang sambil ngesot…

Dahulu, ketika pembagian komplek belum begini keras, dari komplek Sabang sampai komplek Merauke juga kita memiliki mitra, tapi saat ini, potongan kue untuk masing-masing komplek sudah semakin kecil, untuk makan keluarga satpam saja pas-pasan, hoki-hokian deh kalau dapat bagian.

Dahulu, terima telepon, ada yang mau mendaftar untuk masuk ke rumah kami, senangggg banget, gak usah lihat muka gak usah lihat latar belakang, silakan silakan, welcome welcome, monggo monggo. Kalau sekarang, orang mau masuk ke rumah kami, ‘Minta KTP dulu bos’, ‘Toko dimana?’ ‘Aduhhh bukan cluster kami nih bos, maaf yahh bos cari tempat lain saja…’ *sambil elus dada*

Lihat betapa baik kami sebagai distributor pulsa, dimana-mana semua orang jemput bola untuk mencari peluang, kalau kami sih ada peluang yang datang didepan mata juga kami bagi ke tetangga, baik kannnn…. ??

Selain AD, para distributor pulsa yang nggak bisa bertahan juga harus menutup toko, gulung tikar, karyawan terpaksa dipulangkan, kembali meningkat pengangguran…

Sebagai Agen/Penjual Pulsa. Nggak jauh berbeda nasib Agen dengan Distributor, kalau saya memiliki produk dari komplek A, teman saya di komplek B mau minta isi pulsa, dengan berat hati saya NGGAK BOLEH jualan kasih dia. Dilemma Oh Dilemma, nggak jual kasih dia, pendapatan nggak ada, paling sial kena maki lagi, ‘WOI ELO KIRA GW NGGAK BISA BAYAR YAH, SAMPE MAU BELI PULSA SAJA NGGAK MAU ELO JUAL’. Kalau saya beranikan diri jualan kasih dia, siap-siap kena marah Pak Guru, eh satpam…

Kasus lain kalau rumah saya di komplek B, tapi saya cuman kenal sama satpam komplek A, otomatis yang saya punya hanya produk dari komplek A. Pas saudara serumah saya —BACA: SAUDARA SERUMAH— minta pulsa, saya juga nggak boleh jual kasih dia. Sungguh ironis… Rencananya berlagak jadi juragan pulsa, jualan satu kartu semua operator LENGKAP, tapi… *sigh*

Dahulu sih enak, gaya-gayaan jualan di BBM (Blackberry Messenger), jualan di Facebook, di Twitter, di forum-forum, dimana saja deh, yang penting bisa menggapai konsumen. Dengan arogan saya berani tulis ‘PULSA APAPUN ADA, BUTUH PULSA CALL ME, YANG PENTING BAYAR!’. Kalau sekarang…?

Sebagai Konsumen/Pembeli Pulsa. Malam-malam mau telepon pacar pulsa tinggal sikit, pakai SMS/BBM saja kadang pending setengah mampus. Mau telepon, takut ngomong sampe setengah putus pula nih telepon habis pulsa, gengsi donk. Kalau nggak telepon, ntar kasus kek iklan lagi aku kena putusin,  Telepon nggak pernah, SMS nggak pernah…. ‘AKU NGGAK PUNYA PULSAAAAAA’

Temenku nggak mau jual kasih akuuuu….. Katanya nggak di clusterrr diaaaa…..!!!

Nasib memang, mau ke konter beli pulsa, siang-siang, panas banget, sudah malam, mama nggak kasih, jauh konternya, capek dan malas. Halah, hare gene isi pulsa pake ribetttt… ??? Ketika zaman sudah makin maju, fitur handphone canggih habis, tapi isi pulsa mesti ke konter… :(

Mungkin kalau keuntungan untuk para satpam sih enak, mereka sudah monopoli 1 daerah, tapi dengan sistem monopoli kayak begini, ketemu juga satpam yang agak sombong, lagaknya minta ampun, kita bawa duit ke kantor beliau mau beli pulsa, malah diperlakukan kayak saya lagi mau minta sumbangan.

Sampai saat ini saya belum mendapat jawaban yang pasti apa keuntungannya dalam pemberlakuan cluster, namun saya pernah mendengar dari teman saya yang menjadi distributor produk makanan atau apa, mereka juga diberlakukan cluster, jadi lebih fair pemasarannya.

Ada juga teman saya yang jualan grosir HP, juga dilakukan cluster, sesama dealer HP saling komitmen untuk tidak masuk ke daerah masing-masing. Namun apabila dealer A kehabisan barang, nah dia baru boleh mengambil barang dengan dealer B, begitu juga sebaliknya kalau ada dealer yang barangnya nggak laku-laku, boleh segera menginformasikan ke dealer kota lain untuk membantu jualan, saling membantu.

Itu adalah beberapa contoh penjualan produk yang melakukan cluster, namun perlu diingat, produk yang saya sebut diatas itu adalah produk yang nampak fisiknya, bisa dipegang, bisa diraba, jadi kalau konsumen mau melakukan pembelian, mau nggak mau memang harus ke toko terdekat.

Namun kalau produk pulsa, boleh dibilang ini adalah produk ‘cyber’, produk maya, nggak nampak bentuknya, harusnya cara pemasarannya juga fleksibel kemana saja. Wahai para provider, biarlah persaingan dibebaskan saja, jangan ada sistem cluster-cluster, biarlah persaingan di lapangan menjadi hak para AD, toh nggak akan mempengaruhi anda, konsumen mau beli pulsa dimana saja gampang, orang jadi merasa nyaman.

Janganlah ketika sudah menjadi besar, orang-orang yang kecil dibawah sana langsung diperlakukan seperti ini. Paling kasihan saya pernah mendengar curhatan dari salah satu kerabat saya yang menjadi AD salah satu provider ABC, ketika provider tersebut boleh dibilang masih kacangan, masih biasa saja, AD tersebut yang selalu mempromosikan produk ABC, segala macam pengorbanan dilakukan, perjuangan tiada henti, walaupun produk ABC kadang-kadang nggak ada bagusnya, tapi AD bersedia melakukan segala cara untuk meyakinkan para konsumen. Tapi sampai suatu saat, ketika sudah diberlakukan cluster ini, provider ABC ingin melakukan pengurangan AD, dan dilakukanlah semacam perlombaan untuk mengejar nilai yang bagus, AD yang kalah, langsung ditendang. Kasihan…

Satu hal lagi yang membuat saya sangat sangat tidak setuju dengan sistem cluster ini, karena sudah terjadi pembagian wilayah untuk masing-masing dealer, dealer tersebut sudah monopoli 1 wilayah tersebut, dan sudah nggak ada persaingan lagi. Kalau nggak ada persaingan, tebak apa yang terjadi pada dealer? Pelayanan berkurang, dalam hati mereka bilang ‘MAMPOS SITU mau ambil stok sama siapa, toh ini wilayah kita’

Begini saja curhatan hati saya, serta mewakili beberapa teman dan kerabat saya. Mungkin anda juga pernah membaca curhatan di tempat lain, memang begitulah keadaannya. Kami hanya orang kecil, apalah arti opini dari kami ini. Biarlah para provider melakukan apa yang menurut mereka yang terbaik, semoga akan menjadi yang terbaik juga bagi kami dan para konsumen. Salam sukses. :D

Mohon maaf jika ada kata yang salah dan tidak berkenan, maafkan atas segala keterbatasan saya untuk menyampaikan isi hati saya.

Comments

Comment from Ridlwan Abdurrahman
Time 5 February 2012 at 00:46

Sistem cluster menunjukkan ketidakmampuan operator seluler khususnya telkomsel dalam mengontrol distribution channel mereka. Clusterisasi yang dibuat mereka sangat bertentangan beberapa peraturan perundang – undangan. Diantaranya UU anti monopoli, UU tata niaga, serta UU Perlindungan Konsumen, dan masih banyak lagi.

Sangat disayang kan pemerintah atau pun regulator sampai saat ini belum bertindak. Apa harus nunggu rame dulu kali yah kayak kasus SMS PREMIUM baru deh banyak yang jadi pahlawan kesiangan dari kubu pemerintah / regulator :D

Pingback from WilsonKasim.Com – Life, Culinary and Travel Log
Time 8 February 2012 at 23:13

[...] Komp. Makro Business Centre Blok C No.18, Medan – Sumatera Utara ========== NEWS UPDATE : BACA DISINI Berhubung dikarenakan kebijakan cluster yang membuat e-TopUp sedikit kesulitan dalam memenuhi [...]

Write a comment