‘Nightlife’ in Semarang Street, Medan
Saat terang berganti gelap, “surga” kuliner di Jalan Semarang Medan mulai menggeliat. Maklum, lapak yang dipakai para pedagang di sana kalau siang adalah teras toko-toko penjual sparepart mobil. Jelang sore, saat toko onderdil mobil sudah tutup, para pedagang makanan mulai bersiap-siap. Malam adalah milik mereka.
Pedagangan makanan di sini konon sudah mulai ada sejak tahun 1960’an. Makanya, jangan heran kalau Anda menemukan tukang masak yang sudah berganti generasi. Tapi untunglah, mereka semampunya mempertahankan cita rasa yang diwariskan pendahulunya.
Di sini, hampir semua jenis makanan tersedia. Baik yang halal maupun non halal. Tapi bagi Anda yang beragama muslim, kami sarankan untuk bertanya lebih dahulu, apakah pesanan Anda halal atau tidak. Memang, menu makanan di sini didominasi jenis Chinese Food yang umumnya menggunakan daging babi dalam menunya.
Makanya, menu masakan khas Medan seperti mie/kwetiau goreng, mie pangsit/ tiong sim, nasi campur, kari bihun, nasi hai nam, liong tahu, bak kut teh, sate padang, aneka gorengan, bakpao, lontong, cin cong fan, dan lain-lainnya juga ada. Bahkan, Jalan Semarang ini satu-satunya tempat wisata kuliner yang menawarkan menu ekstrim seperti daging ular, biawak, labi-labi, kelelawar, kodok, dan hewan lainnya juga ada. Inilah kelebihan Jalan Semarang ini.
Atau, kalau Anda kepengen mencicipi daging rusa atau kancil, di sini juga ada kok.
Pusat kuliner Jalan Semarang ini sudah tenar ke mana-mana. Tak hanya bagi orang Indonesia, warga negara jiran kita juga sering singgah kemari. Bahkan, menu Bak Kut Teh (sup iga babi) ala Jalan Semarang diakui cita rasanya oleh orang Singapura sendiri! Tahu sendiri, menu ini sangat popular di Singapura.
Kalau Anda suka bihun, cobalah Bihun Bebek Atak. Bihun ini diseduh dengan kuah bening, dicampur dengan irisan daging dan jeroan bebek. Lalu ditambah daun selada, taburan bawang putih goreng dan potongan cabai rawit iris. Ada juga kari bihun bebek yang pasti menggugah selera. Atau Anda bisa mencicipi kwe tiau gorengnya yang tak kalah sedap. Semuanya enak.
Ratusan menu yang tersedia itu bisa Anda nikmati dengan harga mulai Rp 10.000. Makan di sini memang agak mahal, tapi itu tak menjadi soal karena berimbang dengan apa yang kita dapat. Tapi untuk sekadar gambaran, uang Rp 100.000 sudah cukup untuk makan berdua dan hampir puas pula!
Soal suasana, Jalan Semarang ini cukup unik. Pengunjung bisa duduk di mana saja. Pilih saja meja plastik kosong yang menurut Anda nyaman. Tak mesti dekat dengan makanan yang Anda mau. Toh Anda bisa memesan dari tempat terjauh sekalipun! Anda bebas duduk di mana saja.
Hanya satu kekurangan wisata kuliner di Jalan Semarang ini. Karena penjual makanan menerapkan sistem bongkar pasang di ruang terbuka, kalau tiba-tiba hujan turun, Anda akan kerepotan untuk mencari lokasi berteduh. Maklum saja, mereka tidak menyediakan tenda.
Wisata kuliner di Jalan Semarang ini biasanya tutup sampai sekitar pukul 01.00 dini hari. Memang, sejak di beberapa tempat lain di Kota Medan dibuka tempat makan-makan dengan konsep serupa, pengunjung di Jalan Semarang ini terkena dampaknya. Tingkat keramaian pengunjung kini semakin berkurang. Tapi kalau Anda ingin bernostalgia dengan suasana makan yang tak berubah sejak tahun 60’an, mungkin cuma di Jalan Semarang tempatnya.
Source : Reyno – MedanTalk - 12 June 2010


Responses