WilsonKasim.Com

Talk Less, Blog More…

Skip to: Content | Sidebar | Footer

Mie Rebus Dicky

9 September, 2011 | Area Sunggal

Sebelumnya saya perkenalkan dulu, Dicky itu adalah teman saya, namanya memang agak vulgar, se-vulgar orangnya. Nama adiknya juga nggak kalah vulgar, tapi kurang etis kalau saya sebutkan disini. Dicky adalah pemilik Mie Rebus ini? Dan saya bermaksud mempromosikan usaha teman saya ini? Ya… Anda salah! Karena pemberian nama Mie Rebus Dicky adalah atas keinginan saya sendiri, penjual-nya adalah orang India, konon yang pernah saya dengar memang Mie Rebus termasuk Mie India juga yah? Dan asalnya memang dari India? Maaf yah kalau salah, soalnya kebanyakan yang jual sih memang orang India, ada juga sih orang Tionghua, cuman kuahnya agak berbeda.

Mie Rebus itu mie kuning yang disiram dengan kuah yang agak kental-kental, dan diberi telur bulet, ebi goreng, tauge, kerupuk, dan lain-lain… Tidak seperti pengalaman saya dulu ketika di Kota Gudeg, Jogja. Ketika itu saya dan kawan-kawan sedang ber-lesehan sambil menikmati jalanan Malioboro, dan pastinya saya memesan Nasi Gudeg, khas Jogja gitu loh, kemudian karena masih pengen mencoba makanan lainnya, saya pun memesan Mie Rebus.

Ditanya penjual, “Pake telur, mas?”, dalam hati mikir “Wah telur bulet yah, pengen sih”, tapi lantaran memang sudah agak kenyang, dan rencana awal memang mau mencicipi doank, yah saya urungkan niat saya “Nggak usah mbak”. Sambil kongkow sambil melirik ke tempat penjual, “Loh kok nggak ada tanda-tanda mau buat mie rebus yah?”. Selang beberapa saat, terdengar suara lembut dan sopan, “Monggo mas”, tadaaaa!! Datanglah mie rebus pesanan saya, jujur, saya kaget, ternyata kalau di Jogja, Mie Rebus itu adalah Mie Instan Kuah, dan sedihnya saya memesan tanpa telur, jadinya saya makan Mie Instan Kuah Polos deh… :(

Kembali ke laptop, Mie Rebus Dicky ini penjualnya orang India, bukan teman saya, Dicky, tapi kok namanya pakai nama Dicky? Ohhh… Dicky pasti pemiliknya, beliau mem-pekerja-kan ahlinya untuk menjual. Ya… Anda salah lagi! Pemberian nama Dicky bukan lain bukan nggak karena memang tempat ini diperkenalkan pertama kali oleh Dicky kepada saya. Saya nggak tahu nama penjualnya, kalau saya panggil (maaf) Mie Rebus Keling, rasanya agak rasis, jadi asal saya mau kesana, selalu bilang Mie Rebus Dicky.

Sudah beberapa kali Dicky mengajak kami untuk menikmati kuliner disini, tapi selalu berhalangan, tapi lama-lama penasaran juga, dalam hati mikir, “Nih mie rebus-nya memang enak atau si Dicky ada saham disini yah?”. Hmmm… Daripada penasaran, ya sudah pergi coba saja deh…

Dari arah kota Medan, lewat simpang empat Penang, bukan Pulau Penang di Malaysia yah, tapi Penang Baris. Kemudian lurus lagi ke KL, bukan Kuala Lumpur ibukota Malaysia yah, tapi Kampung Lalang, daerah langganan macet. Dengan tempat jualan seadanya, waktu jualannya kalau nggak salah pukul 15.00 sampai malam (kadang nongol, bisa juga nggak nongol, tergantung mood penjual). Sebelum sampai di tugu jembatan kampung lalang, disebelah kiri (dari arah Medan) lihat saja ada tempat fitness dan penjual CD. Jadi kalau anda makan ditempat, apalagi kalau cewek, dapat pemandangan tubuh atletis para pria dan sambil makan sambil dengar lagu yang selalu ikut zaman!

Untuk soal higienis, seperti layaknya jajanan jalanan, nggak ada sumber air, biasanya airnya disiapin di ember besar multi-guna, bisa cuci tangan, bisa cuci sendok, cuci piring, apa-apa ajalah… Tapi yah maklum saja, namanya juga mau coba makanan jalanan, yah seadanya saja, herannya kok yang beginian yang malah ramai dan enak yah?

Satu hal lagi yang buat saya agak ilfeel, penjual mengambil lauk-lauk mie rebus-nya dengan tangan, memotong telur bulet dengan benang yang ntah ada diganti nggak (moga-moga sering diganti dan bersih) dan tangannya juga berfungsi sebagai serah-terima duit, oalah… :(

Tapi kalau soal rasa, saya akui maknyuussss….. Aroma kuahnya wangi, rasanya ohhh jangan raguuuu, apalagi kalau diberi sedikit cabe, nendang banget rasanya. Kemudian yang spesial disini ada seperti kerupuk udang goreng gitu, garing dan agak manis. Oh ya, di foto kurang begitu jelas, maklum pakai kamera jadul. Terus di foto ada nampak daging B2, itu nggak termasuk dalam lauk yah, itu lauk sisa dirumah saya, saya masukin aja… :D

Masih ingat kata Dicky, “Saya bawa 100 orang kesini, 100 orang bilang enak!”. Hmmm… Untuk yang satu ini, saya nggak berani membantah, bro! :D

Mau coba? Siapin Rp 7.500 doank per porsi… Slrupppzz !!

Comments

Comment from Rob
Time 16 October 2011 at 01:48

gak nyangka ada jg yg review tempat ini, pemiliknya isa ngomong hokkien punya, jgn macam2, akkaakkaa..rasanya simple en pas banget seh. uda buka lumayan lama, sayangnya tempatnya ya rada susah parkir mobil.

Comment from WilsonKasim
Time 16 October 2011 at 04:33

Wah bisa ngomong hokkien yah? Untung saya nggak ngmg macam2.. Kalau buka, denger dari temen sih memang sudah lama banget. Kalau untuk lokasi parker memang menjadi suatu masalah, apalagi disana tempat mangkal dan tempat lewat angkot… >.<

Write a comment