WilsonKasim.Com

Talk Less, Blog More…

Skip to: Content | Sidebar | Footer

Obento Japanese Food

19 February, 2012 (00:17) | Komp. Multatuli | By: Wilson Kasim

Makin banyak dibukanya restoran Jepang di Medan membuat pilihan makin beragam. Boleh dibilang saya agak jarang menikmati makanan Jepang karena harganya yang terkadang tidak bisa diajak kompromi dengan kantong, namun dikarenakan belakangan ini lagi ingin mengubah citarasa makanan, daripada itu ituuu aja yang saya makan, jadi saya sempatkan untuk mencicipi makanan Jepang, walau memang harus merogoh kocek agak dalam. :P

Mampir di Obento yang terletak di Komp. Multatuli, restoran ini terbilang masih baru di Medan karena baru hadir sekitar bulan April 2011. Lokasi komplek yang terkadang agak sulit untuk mencari tempat parkir, kecuali malam hari agak lumayan karena sudah banyak toko pada tutup.

Walaupun menu utama disini sebenarnya adalah Bento, namun kali ini saya tidak mencobanya.

Sake Mentai (Rp 30.000) – Sushi yang diatasnya terdapat daging salmon yang dibakar. Rasanya enak, daging salmonnya lembut, itu ada seperti mayonaise diatasnya juga menambah nikmat.

Chuka Idako (Rp 30.000) – Disajikan dengan cepat karena memang sudah tersedia di kulkas, masih terasa dinginnya. Namun nggak begitu pas dilidah saya. Jenis makanan yang berasal dari ‘baby octopus’ ini ada yang agak gede, jadi agak kenyal dan bumbunya juga agak aneh. Saya pernah mencoba ini di Sushi Tei, rasanya lebih enak.

Aburi Tuna Roll (Rp 55.000) – Tuna Roll ini menjadi menu favorit saya malam itu, rasanya komplit dari bumbu, abon ayam sampai daging tunanya. Boleh dicoba.

Curry Ramen (Rp 42.000) – Mungkin agak aneh ketika saya ke restoran jepang tapi malah mencicipi menu Mie Kari. Tapi nggak kecewa juga kok, ternyata rasanya enak. Daging kambingnya juga enak.

Overall untuk menu makanan boleh juga, namun untuk suasana mungkin kurang nyaman apalagi kalau ketika suasana ramai, karena lokasi yang boleh dibilang agak pas2-pasan.

Soto Sinar Pagi, One of The Best Soto Medan.

7 February, 2012 (23:27) | Area Gatsu | By: Wilson Kasim

Diujung jalan Sei Deli, parkiran yang pas-pasan, suasana yang ramai dan agak terasa panas, selamat datang di Soto Sinar Pagi! Ini adalah salah satu kuliner medan yang menurut saya wajib untuk dicicipi.

Tersedia Soto Ayam, Soto Daging dan Soto Campur. Untuk jenis makanan soto gini biasanya saya lebih suka menikmatinya sebagai makan siang, kalau untuk sarapan rasanya terlalu berat, nggak tau yah bagi orang lain, tiap orang kan punya selera berbeda.

Dari pengalaman saya mampir di tempat ini, mau hari biasa, mau hari minggu, selalu ramai pengunjung. Pelayanan disini terbilang unik dan cepat, sambil anda mencari tempat duduk, anda akan langsung ditanyakan mau order apa. Jadi, disaat anda baru saja mendapatkan tempat duduk, dalam sekejap juga makanan sudah berada diatas meja, dan tidak lupa piring kecil sebagai nasi tambo, tau aja mereka kalau orang makan disini bakal ketagihan pengen namboooo…. :D

Terlihat suasana didalam tempat makan. Oops! Dipelototin 3 orang… :D

Sup yang sedikit terasa kental dan berwarna kuning kehijauan ini menjadi ciri khas Soto Medan. Rasanya tak sempurna kalau makan tanpa perkedel, kerupuk udang, dan sambal khas Soto Sinar Pagi ini dijamin rasanya makin nendang.

Lihatlah banyaknya isi daging ayam yang terdapat didalam soto.

Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu sesuai dengan suasana yang terdapat didalam tempat makan ini. Panas, sedikit pengap belum lagi kalau ditambah dengan asap rokok, suara berkicau kayak pasarame deh, orang berlalu-lalang, meng-order, panggil bill, dll. Tapi justru itulah yang menjadi ciri khas tempat makan yang konon sudah beberapa orang terkenal pernah mampir disini. Bagi saya sih nggak masalah, yang penting rasanyaa….

Buka sekitar jam 8 pagi sampai jam 2 siang, dan kalau bulan puasa biasa mereka tutup. Harga seporsi sekitar Rp 20.000.

@Telkomsel : Back to the old style.

4 February, 2012 (23:58) | Thoughts & Musings | By: Wilson Kasim

Ketika umur bergerak cepat tanpa kita sadari, zaman makin berubah, teknologi makin canggih, semua serba digital, fitur telepon genggam yang terkadang diluar nalar, namun Telkomsel malah sedikit berjalan ke belakang, kembali ke dunia nenek moyang saya, kembali ke cara tradisional, entah apa tujuannya…

Artikel ini bukan bertujuan untuk melakukan protes, hanya curahan hati… Karena ini adalah produk Telkomsel, tentu saja menjadi hak beliau dalam menentukan segala hal yang berhubungan dengan beliau, kami orang luar, nggak punya hak apapun, nikmati saja apa yang diberikan.

Saya berada di dunia ini masih termasuk hijau, masi muda, belum genap 4 tahun, maaf kalau pendapat saya ada yang salah. Tapi selebih kurang, saya sudah mengerti seluk beluk tentang dunia ini. Ketika awal tahun lalu, dimulai clusterisasi —mungkin orang atas beliau adalah mantan developer komplek perumahan, jadi bercita-cita membagi beliau menjadi beberapa bagian— yang dilakukan oleh beliau (dan juga diikuti teman-teman lainnya XL dan Indosat).

Seperti yang saya ketahui, program clusterisasi yang dilakukan beliau telah menjatuhkan banyak korban, mulai dari Authorized Dealer (AD) yang perlahan-lahan menutup kantor cabang yang dulunya tersebar dibeberapa tempat, yang secara langsung juga mempengaruhi kenaikan tingkat pengangguran karena karyawan-karyawan yang di-PHK. Mencari pekerjaan baru di masa sekarang ini nggak semudah membalik telapak tangan, belum lagi karyawan yang memiliki tanggungan keluarga.

Beberapa AD yang baru melakukan pembelian/penyewaan kantor cabang juga terimbas masalah ini, karena mau gak mau, kantor cabang yang baru mereka beli/sewa sudah nggak bisa di-operasi-kan. Mending kalau AD tersebut dana IMF-nya kuat, pembelian juga bisa dianggap investasi. Kalau AD yang membeli dengan cicilan, berharap menutup cicilan dengan keuntungan yang didapat dari operasional toko? Terus gimana kalau AD yang menyewa kantor cabang tersebut, kontrak sewa yang sudah ditanda-tangani sudah nggak bisa dibatalkan. AH! Lupakan masalah AD ini, karena saya bukan AD, jadi sebenarnya saya nggak terlalu jelas dan paham masalah yang terjadi di dalam, ini hanya pandangan saya…

Berikut ini beberapa pandangan yang langsung saya alami, untuk mewujudkan cita-cita orang atas beliau, saya ibaratkan cluster sebagai komplek…

Sebagai Distributor Pulsa. Otomatis pasar kami sudah semakin sempit, beberapa mitra diluar komplek yang sudah bekerja sama dengan kami dalam jangka waktu yang bisa terbilang singkat, dengan berat hati harus kami lepas, baik-baik yah nak di komplek baru, cari papa baru ya disana, papa nggak sanggup isiin pulsa lagi…

Banyak mitra yang menelepon saya untuk mencari solusi-nya agar tetap bisa melanjutkan kerja sama, tapi sampai saat ini belum ada solusi yang bisa menolong, karena tiap komplek dijaga oleh satpam yang berbeda-beda, mending ketemu satpam yang baik hati, kita boleh masuk kompleknya, kalau nggak yah siap-siap dicuekin, mau nangis mau berlutut mau sembah sujud juga nggak guna, silap-silap ditendang sambil ngesot…

Dahulu, ketika pembagian komplek belum begini keras, dari komplek Sabang sampai komplek Merauke juga kita memiliki mitra, tapi saat ini, potongan kue untuk masing-masing komplek sudah semakin kecil, untuk makan keluarga satpam saja pas-pasan, hoki-hokian deh kalau dapat bagian.

Dahulu, terima telepon, ada yang mau mendaftar untuk masuk ke rumah kami, senangggg banget, gak usah lihat muka gak usah lihat latar belakang, silakan silakan, welcome welcome, monggo monggo. Kalau sekarang, orang mau masuk ke rumah kami, ‘Minta KTP dulu bos’, ‘Toko dimana?’ ‘Aduhhh bukan cluster kami nih bos, maaf yahh bos cari tempat lain saja…’ *sambil elus dada*

Lihat betapa baik kami sebagai distributor pulsa, dimana-mana semua orang jemput bola untuk mencari peluang, kalau kami sih ada peluang yang datang didepan mata juga kami bagi ke tetangga, baik kannnn…. ??

Selain AD, para distributor pulsa yang nggak bisa bertahan juga harus menutup toko, gulung tikar, karyawan terpaksa dipulangkan, kembali meningkat pengangguran…

Sebagai Agen/Penjual Pulsa. Nggak jauh berbeda nasib Agen dengan Distributor, kalau saya memiliki produk dari komplek A, teman saya di komplek B mau minta isi pulsa, dengan berat hati saya NGGAK BOLEH jualan kasih dia. Dilemma Oh Dilemma, nggak jual kasih dia, pendapatan nggak ada, paling sial kena maki lagi, ‘WOI ELO KIRA GW NGGAK BISA BAYAR YAH, SAMPE MAU BELI PULSA SAJA NGGAK MAU ELO JUAL’. Kalau saya beranikan diri jualan kasih dia, siap-siap kena marah Pak Guru, eh satpam…

Kasus lain kalau rumah saya di komplek B, tapi saya cuman kenal sama satpam komplek A, otomatis yang saya punya hanya produk dari komplek A. Pas saudara serumah saya —BACA: SAUDARA SERUMAH— minta pulsa, saya juga nggak boleh jual kasih dia. Sungguh ironis… Rencananya berlagak jadi juragan pulsa, jualan satu kartu semua operator LENGKAP, tapi… *sigh*

Dahulu sih enak, gaya-gayaan jualan di BBM (Blackberry Messenger), jualan di Facebook, di Twitter, di forum-forum, dimana saja deh, yang penting bisa menggapai konsumen. Dengan arogan saya berani tulis ‘PULSA APAPUN ADA, BUTUH PULSA CALL ME, YANG PENTING BAYAR!’. Kalau sekarang…?

Sebagai Konsumen/Pembeli Pulsa. Malam-malam mau telepon pacar pulsa tinggal sikit, pakai SMS/BBM saja kadang pending setengah mampus. Mau telepon, takut ngomong sampe setengah putus pula nih telepon habis pulsa, gengsi donk. Kalau nggak telepon, ntar kasus kek iklan lagi aku kena putusin,  Telepon nggak pernah, SMS nggak pernah…. ‘AKU NGGAK PUNYA PULSAAAAAA’

Temenku nggak mau jual kasih akuuuu….. Katanya nggak di clusterrr diaaaa…..!!!

Nasib memang, mau ke konter beli pulsa, siang-siang, panas banget, sudah malam, mama nggak kasih, jauh konternya, capek dan malas. Halah, hare gene isi pulsa pake ribetttt… ??? Ketika zaman sudah makin maju, fitur handphone canggih habis, tapi isi pulsa mesti ke konter… :(

Mungkin kalau keuntungan untuk para satpam sih enak, mereka sudah monopoli 1 daerah, tapi dengan sistem monopoli kayak begini, ketemu juga satpam yang agak sombong, lagaknya minta ampun, kita bawa duit ke kantor beliau mau beli pulsa, malah diperlakukan kayak saya lagi mau minta sumbangan.

Sampai saat ini saya belum mendapat jawaban yang pasti apa keuntungannya dalam pemberlakuan cluster, namun saya pernah mendengar dari teman saya yang menjadi distributor produk makanan atau apa, mereka juga diberlakukan cluster, jadi lebih fair pemasarannya.

Ada juga teman saya yang jualan grosir HP, juga dilakukan cluster, sesama dealer HP saling komitmen untuk tidak masuk ke daerah masing-masing. Namun apabila dealer A kehabisan barang, nah dia baru boleh mengambil barang dengan dealer B, begitu juga sebaliknya kalau ada dealer yang barangnya nggak laku-laku, boleh segera menginformasikan ke dealer kota lain untuk membantu jualan, saling membantu.

Itu adalah beberapa contoh penjualan produk yang melakukan cluster, namun perlu diingat, produk yang saya sebut diatas itu adalah produk yang nampak fisiknya, bisa dipegang, bisa diraba, jadi kalau konsumen mau melakukan pembelian, mau nggak mau memang harus ke toko terdekat.

Namun kalau produk pulsa, boleh dibilang ini adalah produk ‘cyber’, produk maya, nggak nampak bentuknya, harusnya cara pemasarannya juga fleksibel kemana saja. Wahai para provider, biarlah persaingan dibebaskan saja, jangan ada sistem cluster-cluster, biarlah persaingan di lapangan menjadi hak para AD, toh nggak akan mempengaruhi anda, konsumen mau beli pulsa dimana saja gampang, orang jadi merasa nyaman.

Janganlah ketika sudah menjadi besar, orang-orang yang kecil dibawah sana langsung diperlakukan seperti ini. Paling kasihan saya pernah mendengar curhatan dari salah satu kerabat saya yang menjadi AD salah satu provider ABC, ketika provider tersebut boleh dibilang masih kacangan, masih biasa saja, AD tersebut yang selalu mempromosikan produk ABC, segala macam pengorbanan dilakukan, perjuangan tiada henti, walaupun produk ABC kadang-kadang nggak ada bagusnya, tapi AD bersedia melakukan segala cara untuk meyakinkan para konsumen. Tapi sampai suatu saat, ketika sudah diberlakukan cluster ini, provider ABC ingin melakukan pengurangan AD, dan dilakukanlah semacam perlombaan untuk mengejar nilai yang bagus, AD yang kalah, langsung ditendang. Kasihan…

Satu hal lagi yang membuat saya sangat sangat tidak setuju dengan sistem cluster ini, karena sudah terjadi pembagian wilayah untuk masing-masing dealer, dealer tersebut sudah monopoli 1 wilayah tersebut, dan sudah nggak ada persaingan lagi. Kalau nggak ada persaingan, tebak apa yang terjadi pada dealer? Pelayanan berkurang, dalam hati mereka bilang ‘MAMPOS SITU mau ambil stok sama siapa, toh ini wilayah kita’

Begini saja curhatan hati saya, serta mewakili beberapa teman dan kerabat saya. Mungkin anda juga pernah membaca curhatan di tempat lain, memang begitulah keadaannya. Kami hanya orang kecil, apalah arti opini dari kami ini. Biarlah para provider melakukan apa yang menurut mereka yang terbaik, semoga akan menjadi yang terbaik juga bagi kami dan para konsumen. Salam sukses. :D

Mohon maaf jika ada kata yang salah dan tidak berkenan, maafkan atas segala keterbatasan saya untuk menyampaikan isi hati saya.

ADS: @BeesMochi – Enjoy The Unique Taste

2 February, 2012 (16:00) | Misc | By: Wilson Kasim

Mochi adalah kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Di Jepang, kue ini sering dibuat dan dimakan pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru Jepang. Namun demikian, jenis kue ini dijual dan dapat diperoleh di toko-toko kue di sepanjang tahun.

Kalau dulu saya makan Mochi hanya dipadukan dengan wijen dan kacang tanah yang ditumbuk, namun saat ini sudah terdapat inovasi baru. Di Medan telah hadir Mochi yang disajikan dengan rasa berbeda, lebih unik dan lebih spesial. Pemiliknya, Feronika, dengan nama tenarnya saat ini, Fero Mochi, dengan bangga memperkenalkan kepada anda, Bee’s Mochi.

Terdiri dari berbagai rasa, yakni kacang, kacang wijen, coklat, abon ayam, kacang merah, kacang hijau, dan nenas. Anda akan dimanjakan dengan beraneka ragam jenis rasa yang asyik banget!

Pertama kali nongol di Medan, penyajiannya masih dengan kotak bening plastik seperti tempat orang jual kue gitu. Namun saat ini sudah diinovasi dengan lebih keren, lebih elegan, dan pastinya lebih efisien untuk dibawa kemana2. Apalagi penambahan tagline ‘Oleh-oleh khas Medan’ pada Bee’s Mochi, secara langsung harus memberikan packaging yang aman dan nyaman untuk dibawa keluar kota.

Terkesan lebih rapi dengan packaging baru. Terus terang saya lebih suka yang sekarang daripada yang dulu. Desain barunya juga lebih eye-catchy.

Dengan isi 12 biji per kotak, namun nggak begitu padat, mungkin bisa diakalin dengan diisi dengan 15-18 biji, apalagi kalau dengan harga sama, lebih mantab lagi! :D

Oh ya, saya lupa menyebutkan Bee’s Mochi dijual dengan harga Rp 35.000 / kotak.

Berikut tips penyajian yang saya dapat dari Bu Fero…
1. Jangan biarkan mochi dlm keadaan terbuka, angin akan membuat kulit mochi menjadi tidak lembut.
2. Jangan dibiarkan terus menerus terkena cahaya matahari langsung, karena penguapan akan memperpendek ‘usia’ mochi.
3. Bee’s Mochi tdk perlu dimasukkan ke lemari pendingin, mochi dapat bertahan lebih kurang 3 hari
4. Mochi bukan cemilan dapat disimpan dalam jangka waktu lama, tentunya semakin fresh konsumsi mochi, semakin nikmat rasanya..

Mochi-mochi fresh from oven.

Bee’s Mochi juga menerima jasa Delivery. Pengiriman akan dikirim hari esok setelah pemesanan, namun apabila full order pada hari tersebut, mochi akan dikirim lusa.

Satu hal yang membuat Bee’s Mochi terasa unik adalah status pesanan yang selalu update dilakukan oleh Fero, update status yang real-time ini membuat customer tidak merasa gerah menunggu tanpa kejelasan. Ini salah satu penampakan betapa larisnya Bee’s Mochi ini.

Beberapa Testimonial pelanggan…

Jika anda berminat, boleh langsung menghubungi Feronika (08196031288 atau PIN BBM 21886182)

Itcho Sushi Bar & Rest

16 January, 2012 (09:51) | Area Sun Plaza | By: Wilson Kasim

Seberapa sering mencicipi makanan Jepang bagi saya sih masih bisa dihitung dengan 1 tangan, disamping rasa makanannya yang terkadang nggak begitu sesuai dengan perut, harganya juga nggak sesuai dengan kantong.

Namun belakangan ini, setelah beberapa kali mencoba, lidah ini sudah mulai bisa menerima cita rasa-nya, cuman kalau suruh saya makan yang mentah, masih belum terbiasa, walau saya pernah mencoba salmon yang mentah, digigit agak kenyal-kenyal, cepat-cepat ditelan aja sebelum merasa aneh.

 

Mencoba mampir di Itcho Sushi Bar, yang menambah banyak pilihan makanan Jepang, terletak di dalam Sun Plaza, perbedaan dengan Sushi Tei saya nggak begitu bisa bedain, tapi kalau nggak salah, pilihan menu di Sushi Tei lebih banyak. Set menu di Itcho sepertinya agak terbatas.

Suasana dapur di Itcho, beberapa Chef sedang sibuk meracik Sushi. Melihat mereka membuat sushi ada kesenangan tersendiri, gaya mengiris-iris daging salmon juga dilakukan dengan lembut.

Champong (Rp 49.000) – Kalau dari penampakan, terlihat seperti Tom Yam, kelihatannya pedassss dan asemmm nihhh… slrruuppp… Namun ketika dimakan, berbeda dengan bayangan awal, rasa kuahnya nggak seperti perkiraan, tapi itu nggak menjadi masalah. Isinya yang rame lauk seafood-nya membuat rasa semakin yahud. Kalau pedasnya ditambah dikit, rasanya pasti lebih nendang.

Unagi Jumbo Maki (Rp 79.000) – Rasa belut yang dibakar ini memang TOP punya, perpaduan rasanya pas banget. Ditengahnya ada diisi dengan apa, saya sudah lupa, mungkin nggak begitu saya perhatikan juga, karena kalau sudah masuk mulut, apapun nggak mau tau lagi, nikmati dulu….

Tuna Avocado Sushi (Rp 18.000) – Kalau namanya salah, mohon dikoreksi yeah. :D Didalamnya diisi tuna dengan topping alpukat nikmat rasanya.

Ikura Gunkan Maki (Rp 18.000) – juga dikenal sebagai Battleship Maki. Adalah jenis sushi yang umum dan lebih tradisional. Sushi yang dibalut rumput laut dan diatasnya diberi Ikura (telur ikan, lebih besar dari Tobiko yang digunakan pada Boston Roll)

Seperti yang saya bilang diawal, harga untuk makan sushi memang agak buat jebol, tapi kalau rasanya yang enak seperti ini, rasanya ya sudahlahh, puasss kok! :D

Wahai lidah dan perut, semoga anda nggak ketagihan makan sushi, karena kalau anda ketagihan, isi kantong bisa menjerit kesakitan….. Arrrggggghhhhhh !!!